Artikel Telekomunikasi-ku

Monday, November 27, 2006

Short Message Service (SMS)

SMS (Short Message Service) secara umum dapat diartikan sebagai sebuah service yang memungkinkan ditransmisikannya pesan text pendek dari dan ke mobile phone, fax, mesin, atau IP address. Disebut pesan text pendek karena pesan yang dikirimkan hanya berupa karakter text dan tidak lebih dari 160 karakter. Pentransmisian SMS menggunakan kanal signalling, bukan kanal suara, sehingga kita dapat saja menerima SMS walaupun kita sedang melakukan komunikasi suara.

Dalam perkembangannya, SMS menjadi salah satu service yang banyak diminatai dan digunakan oleh user, hal ini karena teknologi SMS memiliki beberapa keunggulan, antara lain :
  • Harganya murah.
  • Merupakan ”deliver oriented service”, artinya pesan akan selalu diusahakan utk dikirimkan ke tujuan. Jika suatu saat nomor tujuan sedang tidak aktif atau di luar coverage, maka pesan akan disimpan di SMSC server dan akan dikirimkan sesegera setelah nomor tujuan aktif kembali. Pesan juga akan tetap terkirim ke tujuan walaupun nomor tujuan sedang melakukan pembicaraan (sibuk).
  • Dapat dikirim ke banyak penerima sekaligus pada saat yg bersamaan.
  • Pesan dapat dikirmkan ke berbagai jenis tujuan, seperti e-mail, IP ataupun applikasi lain.
  • Kegunaannya banyak, dengan cara diintegrasikan dengan applikasi content, SMS dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan seperti kuis, voting, chatting, reservasi, request informasi, sensus/survey, dan lainnya tergantung dengan kegunaan dan fungsi aplikasi content yang terhubungan dengan SMSC

Perkembangan Teknologi Messaging

SMS adalah salah satu teknologi messaging (penyampaian pesan). SMS sendiri mulai dikenalkan pada era teknologi wireless generasi ke 2 (2G)., yaitu pada saat dimungkinkannya melakukan komunikasi data pada telekomunikasi wireless. Di Eropa, SMS mulai diperkenalkan pada tahun 1991, pada saat mulai digunakannya GSM yg merupakan teknologi 2G yang digunakan digunakan di negara-negara Eropa.


Tabel di bawah ini menunjukan perkembangan dari teknologi messaging (SMS/MMS) dari mulai era teknologi generasi pertama (1G) sampai ke teknologi 3G.

Gen

Freq

~ Kbps

Teknologi

Service

Catatan

1

800
MHz range

9.6

AMPS

- Circuit-switched wireless analog voice.

- Limited system capacity dan capability.

- No data.

TIDAK bisa SMS

2

800
900
1900
MHz range

9.6 to 14.4

TDMA
CDMA
GSM

- Circuit-switched wireless digital voice data

- Security lebih baik

- Kapasiatas lebih besar

- Support komunikasi data.

BISA SMS

2.5

1900
MHz range

56 to 144

GPRS

CDMA2000-1X

EDGE

- circuit-switched wireless digital voice

- diperkenalkannya packet-switched data services.

- Kecepatan & Kapasitas lebih baik.

Tahap migrasi ke 3G

BISA SMS, EMS, dan MMS

3 G

2 GHz

144 vehicle,
384 outside,
2 Mbps indoors

WCDMA

CDMA2000-MX

UMTS

- packet-switched wireless

- voice dan data

- encrypsi, high-speed multi-media

BISA SMS, EMS, MMS.

3G platforms : komunikasi multimedia kecepatan tinggi

Dalam perkembagannya, SMS kemudian dikembangkan menjadi EMS (Enhanced Message Service), dimana dengan EMS jumlah karakter yang bisa dikirimkan dalam 1 SMS menjadi lebih banyak dan dapat juga digunakan untuk mengirimkan pesan berupa non-karakter (dapat berupa gambar sederhana). Pada EMS, untuk pengiriman pesan yang lebih dari 160 karakter, maka pesan akan dipecah menjadi beberapa buah di mana masing-masingnya terdiri dari tidak lebih dari 160 karakter. Misalnya pesan yang dikirimkan terdiri dari 167 karakter, maka pesan ini akan dipecah menjadi 2 buah SMS (1 buah SMS dengan 160 karakter dan 1 SMS dengan 7 karakter). Kedua SMS ini akan dikirimkan sebagai 2 SMS terpisah dan di sisi penerima akan digabungkan menjadi satu SMS lagi.


Pada saat mulia digunakannya teknologi packet switch seperti GPRS, maka service pengiriman pesanpun berkembang, tidak hanya sebatas text saja, tapi juga bisa dalam bentuk gambar dan suara (multimedia), service ini dikenal dengan nama MMS (Multimedia Message Service). Dengan MMS user dapat mengirimkan pesan lebih hidup karena dapat berupa gambar (statik dan bergerak), suara, ataupun gabungan keduanya.

Arsitektur Jaringan SMS

Gambar di bawah ini menunujukan salah satu contoh arsitektur jaringan GSM dengan SMS center (SMSC) di dalamnya.

Gambar 1. Arsitektur Jaringan GSM dengan tambahan SMS Center


Dengan SMS, kita dapat mentransmisikan pesan singkat dari dan ke Mobile Subscriber (MS). Pengiriman pesan singkat ini (SMS) dimungkinkan dengan adanya sebuah SMSC (Short Message Service Center). Secara umum SMSC berfungsi menerima SMS yang dikirim, menyimpannya untuk sementara, dan memforward (mengirimkan) SMS tersebut ke mobile subscriber (MS) ataupun ESME tujuan.


External Short Message Entities (ESME) adalah device selain MS yang dapat berfungsi untuk menerima atau mengirim SMS. Pada umumnya ESME dipakai untuk menciptakan layanan yang lebih beragam kepada pelanggan ataupun untuk meningkatkan performance jaringan telekomunikasi dari operator telekomunikasi wireless yang bersangkutan. ESME dapat berupa antara lain :

  • VMS (Voice Mail Service). VMS berfungsi untuk menerima, menyimpan dan memainkan/memperdengarkan voice mail (pesan suara) yang ditujukan kepada subscriber. Pesan suara ini direkam ketika ada orang yang hendak menghubungi subscriber tertentu, tapi subscriber tersebut alam keadaan tidak aktif, sibuk, ataupun di luar coverage, sehingga si pemanggil tidak dapat tersambung dengannya. Pada saat ini, pemanggil dapat meninggalkan pesan berupa suara dan akan disimpan di VMS. Pada suatu saat nanti, apabila subscriber yang akan dipanggil tadi sudah aktif kembali atau sudah idle, dia akan menerima notifiksi bahwa ada pesan suara untuknya, dan dia dapat mendengarkan pesan suara tersebut dengan merequest VMS untuk memperdengarkannya di handsetnya.
  • Web. Dengan teknologi internet yang berkembang pesat, MS dapat mengirimkan SMS dan langsung ditampilkan dalam suatu halamanan web.
  • E-Mail. MS dapat juga mengirimkan SMS ke suatu alamat e-mail dan akan diterima sebagai sebuah e-mail.
  • Aplikasi content lainnya. Dengan perkembangan teknologi IT, terutama dibidang software, maka SMS dapat digunakana untuk berbagai macam tujuan, seperti : voting, reservasi tiket, registrasi anggota suatu komunitas, games/kuis, survey, bahkan memungkinkan juga untuk digunakan sebagai sarana PEMILU (Pemilihan Umum). Semua itu dimungkinkan karena adanya aplikasi-aplikasi content yang mendukung.
Bila sebuah SMS dikirimkan dari MS A ke MS B, maka SMS itu akan diteruskan oleh BSS ke MSC dan kemudian ke SMSC. SMSC berfungsi mengirimkan SMS tersebut ke MS B. Untuk keperluan ini, SMSC harus tahu bagaimana status subscriber (aktif/tidak aktif), dimana lokasi MS B berada. Informasi-informasi mengenai MS B ini didapat dari HLR.

Jika misalnya MS B dalam keadaan aktif, maka SMSC akan mengirimkan SMS ke MS B melalui MSC A, MSC B dan kemudian MS B. Bila misalnya MS B dan MS A adalah MS dari 2 operator yang berbeda, maka pada saat pengirman SMS dari A ke B, maka SMS tersebut hanya akan melalui SMSC A, tidak singgah lagi di SMSC B.

Jika misalnya, MS B dalam keadaan tidak aktif, maka SMS tidak akan diforward dan diteruskan ke MSB, tapi akan disimpan untuk sementara di SMSC. Pada kondisi ini, SMSC A akan selalu berkomunikasi dengan HLR untuk mengetahui kondisi MS B. Bila suatu saat SMSC mendapatkan informasi dari HLR bahwa MS B aktif kembali, maka SMS akan diteruskan ke MSC A, MSCB, dan MS B.

Gambar di bawah ini menunujukan alur skenario pengiriman SMS MO dari MS ke ESME (SMS Originating).

Gambar 2. Skenario SMS MO (Mobile Originating)

  1. MS diaktifkan dan ter-register ke networknya.
  2. MS mengirimkan SMS ke MSC.
  3. MSC berkomunikasi dengan VLR untuk memverifikasi bahwa message yang dikirimkan sesuai dengan supplementary service yang ada dan tidak MS tidak sedang dalam keaddan diblok untuk mengirimkan SMS.
  4. MSC mengirimkan SMS ke SMSC dengan menggunakan operasi forwardShortMessage.
  5. SMSC meneruskan SMS ke SME. Secara optional, SMSC dapat juga menerima acknowledgment bahwa SMS telah diterima SME.
  6. SMSC membertitahukan MSC bahwa SMS telah dikirim ke SME.

Dan gambar di bawah ini menunjukan alur skenario SMS yang diterima MS dari ESME (SMS Terminating).
Gambar 3. Skenario SMS MT (Mobile Terminating)
  1. ESME mengirimkan SMS ke SMSC.
  2. Setelah menerima SMS, SMSC akan berkomunikasi dengan HLR mengetahui status dan lokasi MS.
  3. SMSC meneruskan SMS ke MSC.
  4. MSC akan menghubungi VLR untuk mengetahui informasi dari MS. Dalam tahap ini termasuk juga proses authentikasi MS.
  5. Jika MS dalam keadaan aktif dan tidak diblock, MSC mentransfer SMS ke MS.
  6. MSC akan mengirimkan informasi delivery message ke SMSC.
  7. Jika diminta oleh ESME, SMSC akan mengirimkan status report ke ESME

Refferensi
  • www.visualgsm.com
  • www.telsis.com
  • www.sun.com

[written for MobileIndonesia.net]

Enhanced Data rate for GSM Evolution (EDGE)

1. Perkembangan Teknologi Komunikasi Mobile


Perkembangan teknologi komunikasi mobile berjalan sangat pesat. Dalam waktu yang relative singkat, sejak diperkenlakannya penggunaan AMPS sebagai teknologi komunikasi mobile generasi pertama pada tahung 1978, hingga sekarang (tahun 2006), perkembangan nya sudah sampai pada technology generasi ke-4, walaupun masih dalam tahap penelitian dan uji coba. GSM sendiri sebagai salah satu teknologi komunikasi mobile generasi kedua, merupakan teknologi yang saat ini paling banyak digunakan di berbagai negara. Dalam perkembangannya, GSM yang mampu menyalurkan komunikasi suara dan data berkecepatan rendah (9.6 - 14.4 kbps), kemudian berkembang menjadi GPRS yang mampu menyalurkan suara dan juga data dengan kecepatan yang lebih baik,115 kbps. Pada fase selanjutnya, meningkatnya kebutuhan akan sebuah system komunikasi mobile yang mampu menyalurkan data dengan kecepatan yang lebih tinggi, dan untuk menjawab kebutuhan ini kemudian diperkenalkanlah EDGE (Enhanced Data rates for GSM Evolution) yang mampu menyalurkan data dengan kecepatan hingga 3 kali kecepatan GPRS, yaitu 384 kbps.


Pada pengembangan selanjutnya, diperkenalkanlah teknologi generasi ketiga, salah satunya UMTS (Universal Mobile Telecommunication Service), yang mampu menyalurkan data dengan kecepatan hingga 2 Mbps. Dengan kecepatan hingga 2 Mbps, jaringan UMTS dapat melayani aplikasi-aplikasi multimedia (video streaming, akses internet ataupun video conference) melalui perangkat seluler dengan cukup baik. Perkembangandi dunia telekomunikasi mobile ini diyakini akan terus berkembang, hingga nantinya diperkenalkan teknologi-teknologi baru yang lebih baik dari yangada saat ini. Akhir-akhir ini, para ilmuwan berusaha mengembangkan teknologi telekomunikasi mobile dengan bandwidth yang sangat lebar, tingkat mobilitas tinggi, service yang terintegrasi, dan berbasikan IP (mobile IP). Teknologi ini diperkenalkan dengan nama "Beyond 3G" atau 4G.

Gambar 1. Skema perkembangan teknologi telekomunikasi mobile


2. Pengimplementasian EDGE


Seperti namanya, EDGE (Enhanced Data rates for GSM Evolution), adalah teknologi yang dikembangkan dengan basic teknologi GSM dan GPRS. Sebuah system EDGE dikembangkan dengan tetap menggunakan equipment yang terdapat pada jaringan GSM/GPRS. Jadi EDGE tidak bisa sendiri. Sebuah sistem GPRS terdiri dari SGSN (Serving GPRS Support Node) dan GGSN (Gateway GPRS Support Node), yang merupakan jaringan corenya, yang ditambahkan pada sebuah jaringan GSM sebelumnya. Sedangkan pada sisi radionya, jaringan GPRS membutuhkan penambahan PCU pada perangkat radio jaringan GSM sebelumnya. Gambar di bawah ini menunjukan diagram jaringan GPRS secara umum.

Gambar 2. Arsitektur jaringan GPRS


Pengimplementasian EDGE pada jaringan existing GPRS hanya memerlukan penambahan pada sisi radio aksesnya saja. Sedangkan pada sisi core network-nya, EDGE menggunakan perangkat dan protocol yang sama dengan yang digunakan pada jaringan GPRS sebelumnya. Perbedaan jaringan GPRS dan EDGE hanya terdapat pada sisi radio akssnya saja, sedangkan pada sisi jaringan corenya, EDGE dan GPRS menggunakan equipment dan protocol yang sama. Sebuah jaringan GPRS dapat diupgrade menjadi sebuah jaringan dengan sistem EDGE hanya dengan menambahkan sebuah EDGE Transceivier Unit (TRU) pada sisi radio aksesnya. Gambar di bawah ini menunjukan blok diagram sebuah jaringan GPRS yang diupgrade menjadi EDGE secara umum.

Gambar 3. Panambahan element EDGE pada jaringan GPRS

3. Bagaimana EDGE Dapat Mencapai Kecepatan Itu ?

EDGE adalah sebuah cara untuk meningkatkan kecepatan data pada radio link GSM. Dengan menggunakan teknik modulasi dan coding scheme yang berbeda dengan system GPRS sebelumnya, serta dengan melakukan pengaturan pada protocol radio link-nya, EDGE menawarkan kapasitas dan thoughput yang secara significant jauh lebih besar dari yang dimiliki oleh system GPRS. Jadi secara umum ada tiga aspek teknik baru pada EDGE jika kita bandingkan dengan GPRS, yaitu :
  • Teknik Modulasi

  • Teknik Coding

  • Radio Access Network (RAN)


3.1. Modulasi Pada EDGE

Untuk mendapatkan kecepatan transfer yang lebih tinggi dari GPRS yang menggunakan modulasi GMSK (Gausian Minimum Shift Keying), EDGE menggunakan teknik modulasi yang berbeda dengan GPRS yaitu 8PSK (8-Phase Shif Keying). Gambar dibawah ini menunjukan visualisasi dari modulasi GMSK pada GPRS dan 8PSSK pada EDGE yang digambarkan pasa sebuah diagram I/Q, dimana I adalah sumbu real dan Q adalah sumbu imajiner.


Gambar 4. Visualisasi modulasi GMSK dan 8PSK

Dengan menggunakan modulasi 8PSK, sebuah symbol dikodekan dengan menggunakan 3 bit, sedangkan pada GMSK sebuah symbol dikodekan dengan 1 bit. Karena GMSK dan 8PSK mempunyai simbol rate yang sama, yaitu sebesar 270 ksimbol/s, maka secara keseluruhan modulation rate pada 8PSK akan menjadi 3 kali lebih besar daripada GMSK, yaitu sebesar 810 kb/s.

Jika kita perhatikan dari gambar visualisasi modulasi GMSK dan 8PSK di atas, jarak antar simbol pada 8PSK adalah lebih pendek daripada jarak antar simbol pada GMSK, karena dalam 8PSK ad 8 simbol sedengkan pada GMSK hanya ada 2 simbol. Makin pendek jarak antar simbol mengakibatkan besar level sinyal antar satu simbol dengan simbol lainnya lebih susah untuk dibedakan. Sehingga kemungkinan terjadinya error lebih besar. Tapi pada kondisi sinyal radio yang cukup baik, perbedaan jarak antar simbol ini tidak terlalu berpengaruh terhadap kwalitas data yang dikirim. Pada saat kondisi sinyal radio yang buruk, maka diperlukan penambahan extra bit yang akan digunakan sebagai sebagai error correction, sehingga data yang salah diterima dapat diperbaiki. Sehingga kwalitas data pada EDGE tidak kalah dengan kwalitas data pada GPRS yang menggunakan MPSK. Lagi pula, dalam EDGE juga digunakan modulasi MPSK yang digunakan pada CS1 sampai dengan CS4 - nya, dan juga dalam EDGE ada proses "packet adjustment" yang dapat merubah jenis CS yang digunakan bila terjadi kesalahan pada data yang dikirim. Mekanisme "packet adjustment" ini akan dijelaskan selanjutnya pada su bab Coding Scheme.


3.2. Teknik Coding Pada EDGE

Pada EDGE dikenal 9 macam teknik coding, yaitu MCS (Modulation Coding Scheme ) 1 sampai dengan MCS9. Sedangkan pada GPRS hanya digunakan 4 buah teknik coding, yaitu CS (coding Scheme) 1 sampai dengan SC4. Empat teknik coding pertama pada EDGE, MCS1 sampai dengan MCS4, menggunakan modulasi GMSK, sama seperti yang digunakan pada GPRS. Sedangkan 5 teknik coding lainnya, MCS5 sampai dengan MCS9, menggunakan modulasi 8PSK. Gambar di bawah ini menunjukan jenis teknik modulasi yang digunakan pada GPRS dan EDGE beserta kecepatan maksimum yang dapat dicapai.


Gambar 5. Perbadingan skema modula pada GPRS dan EDGE


Baik pada GPRS ataupun EDGE, tingkatan Coding Scheme yang lebih tinggi menawarkan kecepatan data yang lebih tinggi pulaTtapi di samping itu, makin tingggi tingkatan coding scheme-nya, maka ketehanannya terhadapa error makin rendah. Artinya Makin tinggi kecepatan packet data, maka makin mudah paket data itu mengalami kesalahan dalam pengirimannya. Hal ini karena, makin tinggi tingkatan coding schemenya, maka tingkatan mekanisme "error correction" yang digunakan makin rendah.


Walaupun MCS1 sampai dengan MCS4 pada EGDE sama-sama menggunakan modulasi GMSK seperti CS1 sampai dengan CS4 pada GPRS, tetapi keduanya memiliki kecepatan yang berbeda. Hal ini karena adanya penggunaan header yang berbeda. Pada EDGE, packet datanya mengandung header yang memungkinkan dilakukannya re-segmentasi packet data. Artinya, apabila suatu packet data dikirimkan dengan menggunakan level coding scheme yang tinggi (kecepatan lebih tinggi, error correction kurang) dan data tidak diterima dengan baik pada sisi penerima. Maka setelah dilakukan permintaan pengiriman ulang (re-transmition) packet data yang salah terima itu, pada pengiriman selanjutnya, coding scheme yang digunakan dapat diganti dan disesuaikan dengan kondisi radio interface. Artinya, pada pengiriman selanjutnya, packet data akan dikirimkan dengan menggunakan coding scheme yang lebih rendah, yang memiliki mekanisme error correction yang lebih baik. Sehingga diharapkan pada pengiriman kedua ini data dapat diterima dengan baik di sisi penerima. Sedangkan pada GPRS, re-segmentasi packet data ini tidak dapat dilakukan. Sehingga apabila suatu packet data telah dikirim dengan menggunakan suatu coding scheme tertentu. Maka walaupun data titerima salah di sisi penerima, pada saat pengiriman berikutnya,data tetap akan dikirim dengan menggunakan coding scheme yang sama. Sehingga kemungkinan packet data itu salah diterima di sisi penerima masih sama besar dengan sewaktu pengiriman pertama. Dengan demikian dapat dicapai keseimbangan antara kecepatan transfer dan kwalitas data yang ditransfer.


4. Refferensi

  • http://www.ericsson.com, white paper : EDGE - Introduction of Haigh-speed data in GSM/GPRS network

  • Lappeenranta University of Technology, Seminar material : GSM/EDGE Radio Access Network

  • Siemens Indonesia, Training material : GPRS Overview


[written for MobileIndonesia.net]

Registrasi Prabayar, Effort dan Efektivitasnya

Kenapa Harus Registrasi?

Pelanggan telepon seluler di Indonesia saat ini sudah mencapai sekitar 45 juta pelanggan. Pertumbuhan pelanggan yang pesat ini dipicu dengan adanya kemudahan-kemudahan yang diperikan oleh penyedia jasa telekomunikasi seluler (operator), seperti tarif dan harga yang makin murah, serta kemudahan memperoleh kartu perdana. Saat ini orang dapat saja membeli katu perdana prabayar di kaki lima- kaki lima, di emperan toko, di bus-bus, di kereta api, dan lain-lain. Bahkan untuk membeli sebuah kartu perdana sama mudahnya dengan membeli sebatang rokok.

Kemudahan memperoleh kartu prabayar ditambah dengan harganya yang sangat murah, lebih murah dari harga voucher, membentuk sebuah kebiasaan baru di lingkungan pengguna, yaitu beli-pakai dan buang. Jadi pelanggan lebih suka menggunakan kartu prabayar sebagai Calling Card, yang dibeli hanya untuk tujuan menelepon, setelah pulsanya habis maka akan dibuang dan dia akan membeli kartu perdana yang baru lagi. Di sisi lain, kemudahan dan harga yang murah ini dimanfa’atkan oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain, seperti : penipuan dengan menggunakan SMS, melakukan teror dan ancaman, bahkan operasional kegiatan-kegiatan terorisme pun banyak menggunakan kartu prabayar. Pihak keamanan akan sangat susah untuk memdeteksi siapa dan dimana pelaku tindakan-tindakan kriminal yang menggunakan kartu prabayar ini, sebab pelaku kejahatan dapat mendapatkan kartu prabayar dimana saja dan membuangnya sesudah melakukan kejahatan.

Dengan alasan untuk memiliki data semua pengguna kartu prabayar sehingga orang akan merasa lebih bertanggung jawab dalam menggunakan kartu prabayar dan pada akhirnya penggunaan kartu prabayar untuk kegiatan-kegatan kriminal dapat dikurangi, maka pemerintah mengeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap pelanggan seluler untuk meregistrasikan data pribadinnya ke database yang terdapat pada operator selulernya. Dan bila pelanggan tidak melakukan registrasi, maka dalam rentang waktu tertentu kartunya akan diblok dan dihapus sehingga tidak dapat digunakan kembali.

Kalau kita mau jujur, sebenarnya ide registrasi prabayar ini lebih dikarenakan karena maraknya aksi terorisme di Indonesia akhir-akhir ini. Dan kelompok-kelompok teroris itu menggunakan kartu prabayar dalam operasinya. Karena kartu prabayar dapat diperoleh dimana saja, dan penggunanya tidak terdata, maka pihak keamanan kesulitan dalam melacak siapa dan dimana kelompok-kelompok teroris tersebut. Sehingga muncullah ide untuk mendata semua pengguna kartu prabayar. Dengan harapan kegiatan terorisme dapat lebih terkendali dan mudah diketahui pelakunya.


Effort dan Resiko

Tidak dapat dipungkiri bahwa operator seluler di Indonesia membutuhkan effort yang besar untuk dapat memenuhi peraturan pemerintah ini, yang semuanya itu berujung dengan makin besarnya biaya operasional yang mereka keluarkan.

Dalam melakukan registrasi, pemerintah menyerahkan sepenuhnya mekanisme pelaksanaannya kepada masing-masing operator. Dari beberapa petemuan yang sudah dilakukan oleh beberapa operator seluler, mengerucut suatu ide untuk melakukan registrasi melalui SMS. SMS dianggap sebagai sarana yang paling mudah untuk melakukan registrasi dan tidak memberatkan pelanggan. SMS registrasi ini nantinya haruslah gratis, sebab bila dikenakan biaya maka pelanggan akan enggan untuk melakukan registrasi. Dengan asumsi jumlah pelanggan seluler sebanyak 45 juta dan tarif satu SMS rata-rata Rp.300, maka peraturan registrasi prabayar ini akan mengakibatkan operator mengalami kerugian sebesar Rp.13.500.000.000,- (45 juta x Rp.300,-).

Angka kerugian di atas hanya dari tarif SMS registrasi, belum lagi biaya yang harus dikeluarkan operator untuk mensosialisasikan peraturan ini ke pelanggan existingnya. Sosialisasi sangat penting sebab bila peraturan ini tidak diketahui dan dipahami oleh pelanggan existing sehingga mengakibatkan sang pelanggan tidak melakukan registrasi dan kartunya diblok, maka operatorlah yang akan rugi, sebab mereka akan kehilangan pelanggan. Ada tercetus ide untuk melakukan sosialisasi dengan mengirimkan SMS pemberitahuan kepada tiap-tiap pelanggan. Maka untuk sekali proses sosialisasi, operator akan mengalami kerugian sebesar Rp.13.500.000.000,- (45 juta x tarif 1 SMS Rp.300,-). Dan sosialisasi tidak hanya dilakukan satu kali saja, mungkin akan dilakukan 2 sampai tiga kali, agar pelanggan existing benar-benar mengetahui dan paham, maka kerugian operatorpun akan berlipat menjadi dua sampai tiga kali lipat.

Setelah proses registrasi, maka operator diwajibkan untuk melakukan proses validasi data, apakah data yang dikirim pelanggan benar atau palsu. Beberapa operator ada yang menolak kalau tanggung jawab validasi ada di sisi mereka, dengan alasan hal itu terkait dengan tingkat kejujuran pelanggan dan hal ini berada di luar jangkauan dan kemampuan mereka. Tapi ada juga operator yang menyanggupinya dan berencana melakukan proses validasi dengan menelepon pelanggan satu-persatu dan menanyakan keabsahan data yang mereka kirim. Kalau kita misalkan satu orang pelanggan akan dihubungi dan berbicara rata-rata selama 2 menit, dan tarif pembicaraan rata-rata sebesar Rp.1.000,- per menit (tarif seluler ke seluler sejenis, sebab masing-masing operator akan lebih memilih untuk menggunakan produk seluler mereka sendiri dan digunakan untuk menghubungi pelanggannya ketimbang menggunakan PSTN Telkom ataupun produk operator lain, sebab walaupun biayanya mungkin lebih murah, dengan mengunakan PSTN telkom atau produk operator lain mereka harus membayar tagihan ke Telkom ataupun operator lain. Sedangkan kalau mereka memakai produk mereka sendiri, mereka tidak harus melakukan transaksi berupa uang), maka kerugian yang akan dialami operator karena proses validasi data ini adalah sebesar Rp.90.000.000.000,- (2 menit x Rp.1.000,- x 45 juta pelanggan). Angka-angka kerugian di atas adalah angka kerugian yang diderita operator untuk jumlah pelanggan 45 juta, jadi angka tersebut pasti akan naik terus seiring dengan bertambahnya jumlah pelanggan seluler di Indonesia.

Untuk melakukan proses validasi, operator juga harus menyediakan tenaga kerja tambahan di unit Call Center, atau menambah jam kerja karyawannya. Sehingga operator juga masih harus mengeluarkan biaya tambahan lagi untuk menggaji tenaga kerja tambahan tersebut atau untuk membayar kerja lembur karyawannya. Selama ini operator hanya menyanggupi proses validasi yang seperti ini, sebab akan sangat sulit melakukan registrasi-validasi dengan cara menyuruh pelanggan sendiri yang datang ke kantor-kantor operator dan menunjukkan KTPnya kepada petugas di sana untuk divalidasi ataupun diregistrasi.

Dari sisi teknis, peraturan registrasi ini memaksa operator untuk melakukan perubahan pada aplikasi jaringan telekomunikasi mereka atau mungkin juga menambah aplikasi baru sehingga urutan-urutan proses dalam registrasi ini dapat dilakukan secara otamatis. Artinya, apabila ada pelanggan yag melakukan registrasi dan telah divalidasi maka datanya akan dikirim ke sistem jaringan operator dan pelanggan ini tidak akan diblokir. Sebaliknya, bila ada pelanggan yang sampai rentang waktu yang diberikan tidak melakukan registrasi, maka pelanggan ini secara otomatis akan diblokir oleh sistem. Jadi semuanya harus dilakukan secara otomatis, sebab bila tidak akan sangat susah melayani proses registrasi dari pelanggan yang jumlahnya jutaan dan terus bertambah banyak. Pengintegrasian tahapan-tahapan registrasi ini ke system yang existing sekarang tentu memerlukan kerja dan biaya tambahan. Sedangkan mekanisme baru ini sendiri tidak mendatangkan income secara langsung kepada operator.

Peraturan pemerintah tentang keharusan registrasi badi pelanggan kartu prabayar ini juga akan berpengaruh kepada pertumbuhan jumlah pelanggan. Pelanggan dapat saja berkurang bila operator dan pemerintah kurang bisa melakukan sosialisasi dengan baik, sehingga pelanggan tidak mengetahui ataupun tidak mengerti sehingga kartunya akan diblok dan tidak dapat digunakan lagi. Selain itu, kebiasaan beli-pakai-buang akan makin berkembang, karena budaya kebanyakan masyarakat kita enggan untuk melakukan sesuatu yang tidak bermanfa'at langsung untuk dirinya pribadi (proses registrasi ini). Sehingga mereka akan memilih untuk menghabiskan pulsa mereka sebelum waktu pemblokiran, dan setelah itu mereka akan membeli kartu prabayar yang baru lagi. Walaupun akhirnya mereka akan membeli kartu yang baru, karena komunkasi bagi mereka adalah suatu kebutuhan, tapi bila dilihat dari sisi pertumbuhan pelanggan, pola seperti ini akan mengakibatkan pertumbuhan jumlah pelanggan yang sangat lambat. Di sisi lain, operator dipaksa untuk memproduksi lebih banyak lagi kartu prabayar baru. Hal ini akan mengakibatkan biaya produksi yang lebih besar bagi operator. Selain itu juga, kapasitas HLR operator juga harus lebih besar, karena data tiap-tiap kartu akan disimpan di HLR, sehingga makin banyak kartu diproduksi, makin besar kapasitas HLR yang dibutuhkan. Hal ini juga berarti makin besar biaya yang harus dikeluarkan operator. Kalau kapasitas HLR yang membesar itu berarti jumlah pelanggan mereka bertambah banyak, maka hal ini tidak akan menjadi masalah karena biaya investasi dan operasonal dapat ditutupi dari pemasukan yang diberikan pelanggan. Tapi kalau membesarkan kapasitas HLR tidak diikuti dengan jumlah pelanggan yang bertambah banyak, maka operator akan merugi.

Peraturan registrasi data ini juga akan kontraproduktif dengan strategi maketing yang dijalankan oleh semua operator seluler selama ini. Dimana saat ini operator berusaha memberikan kemudahan kepada pelanggan untuk mendapatkan dan menggunakan produk mereka, bahkan ada operator yang memberikan fasilitas pakai dulu - pendataan kemudian kepada calon pelanggan kartu PASCA bayarnya (buka pra bayar lho). Hal ini mereka lakukan untuk meningkatkan pertumbuhan jumlah pelanggannya. Selain itu, beberapa operator juga menerapkan strategi memperpanjang waktu aktif pelanggan, hal ini bertujuan agar pemblokiran suatu nomor dapat lebih dikurangi dan pelanggan lebih terpacu untuk tidak berganti-ganti nomor. Sebab, begitu waktu aktif pelanggan habis dan pelanggan diblokir, maka berarti operator membuka peluang bagi pelanggannya untuk pindah ke operator lain. Sedangkan dengan adanya peraturan registrasi ini, maka peluang suatu kartu dibloking akan menjadi lebih besar, sehingga efeknya akan kontraproduktif dengan strategi marketing operator.

Dari sisi keamanan data, operator harus menjamin bahwa data yang diberikan oleh pelanggan tidak digunakan untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan tujuan registrasi ini. Sebab, sa'at ini banyak terjadi di instansi - instansi yang menyimpan data pelanggannya, ada oknum-oknum yang menjual data pelanggannya ke pihak - pihak lain, yang nantinya mereka gunakan untuk tujuan marketing produk mereka (contohnya tiba-tiba ada orang yang menelepon anda dan menawarkan jasa atau barang kepada anda, padahal anda belum mengenal orang itu sebelumnya), bahkan ada juga orang yang menggunakannya untuk melakukan penipuan.


Efektifkah Registrasi?

Pemerintah menerapkan peraturan registrassi kartu prabayar ini bertujuan untuk mendapatkan data-data tentang pengguna kartu prabayar di Indonesia, sehingga pemerintah akan dengan mudah mengetahui data diri pelaku kejahatan bila kejahatan itu dilakukan dengan melibatkan komunikasi seluler. Selain itu pengguna kartu pra bayar juga akan lebih termotivasi untuk tidak menggunakan kartu pra bayar miliknya untuk melakukan tindakan kejahatan dan merugikan orang lain. Tujuan ini akan tercapai jika data-data yang diberikan oleh pengguna kartu pra bayar cukup valid. Tetapi kalau data yang diberikan adalah data yang tidak benar dan hanya berisi kebohongan, maka registrasi yang dilakukan tidak akan bermanfa'at sama sekali.

Kurangnya rasa kepercayaan masyarakat kita terhadap pemerintah dan instansi-instansi penyimpan data selama ini, akan mendorong mereka untuk tidak meregistrasikan data-data yang benar. Sehingga, proses registrasi dilakukan hanya sebatas formalitas untuk menghindari pemblokiran. Bahkan mungkin mereka berani berbohong pada saat mereka ditelepon dan divalidasi oleh petugas dari operator. Keberanian berbohong ini juga dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pemahaman dan keyakinan agama masyarakat kita.

Berkaca pada fenomena banyaknya KTP palsu dan mudahnya membuat kartu identitas palsu, maka akan sangat sulit mendapatkan data-data yang valid dan benar, apalagi bila proses registrasi dan validasinya tidak dilakukan dengan bertatap muka langsung. Ke-valid-an data ini sangat menentukan efektif tidaknya proses registrasi yang dilakukan. Bila data yang diregistrasikan adalah data-data yang hanya berisi kebohongan, maka proses registrasi ini hanyalah sebuah pemborosan yang tidak bermanfa'at dan hanya akan mengurangi pendapat operator yang secara langsung juga akan mengurangi pendapatan pemerintah. Di sisi lain juga akan membuka peluang terjadinya bentuk-bentuk penipuan-penipuan dan kejahatan baru.

Efektivitas dari tujuan pencegahan kejahatan juga dipertanyakan jika hanya kartu prabayar yang diminta untuk diregistrasi. Bagaimana dengan operator-operator yang hanya menjual pulsa, seperti pulsa VOIP misalnya? Perkembangan dan distribusi internet sa'at ini juga sudah sangat baik. Kita dapat menemukan internet di hampir semua kota di Indonesia. Dan orang yang bisa memakai internet bukanlah harus orang sekolahan. Mengapa hanya kartu pra bayar yang harus diregistrasi? Mungkin pemerintah akan menjawab, karena pengguna kartu prabayar sudah sangat banyak dan belum diregistrasi. Tapi dengan membiarkan operator yang hanya menjual pulas bebas beroperasi, dan tidak diatur oleh peraturan registrasi apapun berarti kita tidak memberikan solusi yang menyeluruh. Bila pra bayar sudah diregistrasi, kalau orang memang mau berbuat jahat dengan menggunakan sarana telekomunikasi, maka dia bisa saja mengunakan sarana yang lain yang memang masih memungkinkan.

Terakhir, saran buat kita semua terutama bapak-bapak pembuat peraturan di negeri ini, janganlah kita menutup kedua kuping kita selamanya hanya karena kita pernah sekali dikejutkan oleh suara halilintar yang menggelegar. Halilintar adalah fenomena alam yang kita tidak mampu mencegah dan membuatnya. Halilintar bisa datang sa'at hujan, bisa juga sa'at tidak ada hujan. Sedangkan kalau kuping kita selalu tertutup maka kita akan kehilangan kesempatan mendengarkan bunyi air hujan yang menyejukan dan juga bunyi burung-burung yang berkicau setelah hujan reda. Artinya, marilah kita cari solusi yang baik dan tidak menghambat produktivas kita. Jangan sampai kepanikan sesaat membuat kita melakukan hal-hal yang kontraproduktif.[written for MobileIndonesia.net]


Friday, November 03, 2006



A S S A L A M U 'A L A I K U M